Minggu, 22 Januari 2012

Masalah-masalah pada Lanjut Usia

PENDAHULUAN
Proses menua pada manusia merupakan suatu proses alamiah yang tak terhindarkan, dan menjadi manusia lanjut usia (lansia) yang sehat merupakan suatu rahmat.
Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain.
Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia. Ada dua terminologi mengenai usia lanjut yaitu yang berdasarakan usia kronologi dan usia biologik. Terminologi biologik sebenarnya yang lebih bernakna dalam penanganan masalah usia lanjut.
Batasan Lansia
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lanjut usia dikelompokkan menjadi:
a. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
b. Lanjut usia (elderly) : antara 60 dan 74 tahun.
c. Lanjut usia tua (old) : antara 75 dan 90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) : diatas 90 tahun
 Saat ini berlaku UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia yang berbunyi sebagai berikut: lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas.

MASALAH-MASALAH PADA LANSIA
A.    PENURUNAN MASALAH FISIK DAN FUNGSI TUBUH
Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.

a.     Sistem pernafasan pada lansia.
1.    Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.
2.    Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret.
3.    Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml.
4.    Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m²), Ù menyebabkan terganggunya prose difusi.
5.    Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan.
6.     CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri.
7.     kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.

b.    Sistem persyarafan.
1.    Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan.
2.    Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir.
3.    Mengecilnya syaraf panca indera.
4.    Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium & perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.

c.    Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia.
1.    Penglihatan
a.    Kornea lebih berbentuk sferis (bola)
b.    Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
c.    Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa).
d.    Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, susah melihat
       dalam cahaya gelap.
e.    Hilangnya daya akomodasi.
f.    Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang.
g.    Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala.
2.    Pendengaran.
a.    Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) :
b.    Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara, antara
       lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata kata, 50 % terjadi pada usia diatas
       umur 65 tahun.
c.    Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis.
d.    Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya kreatin.
3.    Pengecap dan penghidu.
a.    Menurunnya kemampuan pengecap.
b.    Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera makan berkurang.
4.    Peraba.
a.    Kemunduran dalam merasakan sakit.
b.    Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin.

d.    Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut.
1.    Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
2.    Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini 
       menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
3.    Kehilangan elastisitas pembuluh darah.
4.    Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur keduduk
       ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan 
       pusing mendadak ).
5.    Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer (normal ± 170/95
       mmHg ).

e.    Sistem genito urinaria.
1.    Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, penyaringan 
       diglomerulo menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan 
       mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) .
2.    Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau 
       menyebabkan frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia
       sehingga meningkatnya retensi urin.
3.    Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun.
4.    Atropi vulva.
5.    Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan menurun juga permukaan menjadi halus, sekresi 
       menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan warna.
6.    Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan
       menikmati berjalan terus.

f.    Sistem endokrin / metabolik pada lansia.
1.    Produksi hampir semua hormon menurun.
2.    Pituitary, Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembuluh darah dan 
       berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH.
3.    Menurunnya aktivitas tiriod
4.    Menurunnya produksi aldosteron.
5.    Menurunnya sekresi hormon: progesteron, estrogen, testosteron.
6.    Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism, depresi dari sumsum tulang serta kurang 
       mampu dalam mengatasi tekanan jiwa (stess).

g.     Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut.
1.    Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun,
       penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.
2.    Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap 
       (± 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama rasa manis, asin, asam & pahit.
3.    Esofagus melebar.
4.    Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung menurun, waktu 
       mengosongkan menurun.
5.    Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi.
6.    Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ).
7.    Liver ( hati ), Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah.

h.    Sistem muskuloskeletal.
1.    Tulang rapuh.
2.    Resiko terjadi fraktur.
3.    Kyphosis.
4.    Persendian besar & menjadi kaku.
5.    Pada wanita lansia > resiko fraktur.
6.    Pinggang, lutut & jari pergelangan tangan terbatas.
7.    Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi badan berkurang ).

i.     Perubahan sistem kulit & jaringan ikat.
1.    Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
2.    Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa
3.    Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak begitu tahan terhadap panas
       dengan temperatur yang tinggi.
4.    Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang
       meproduksi pigmen.
5.    Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka kurang baik.
6.    Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh.
7.    Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna rambut kelabu.
8.    Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun.
9.    Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun.
10.  Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas
       otot.

j.    Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual.
1.    Perubahan sistem reprduksi.
a.    Selaput lendir vagina menurun/kering.
b.    Menciutnya ovarium dan uterus.
c.    Atropi payudara.
d.    Testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur berangsur.
e.    Dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik.

2.    Kegiatan sexual.
Sexualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhubungan dengan alat reproduksi.
Sexualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya, yaitu dengan cara yang lain dari sebelumnya, membuat pihak lain mengetahui bahwa ia sangat berarti untuk anda. Juga sebagai pihak yang lebih tua tampa harus berhubungan badan, msih banyak cara lain unutk dapat bermesraan dengan pasangan anda. Pernyataan pernyataan lain yang menyatakan rasa tertarik dan cinta lebih banyak mengambil alih fungsi hubungan sexualitas dalam pengalaman sex.

B.   PENYAKIT YANG DIDERITA LANSIA

1.    Kencing manis (Diabetes Melitus)
a.    Tipe I : IDDM (Insulin dependent Diabetes melitus)
Cirinya :
-    Banyak menyerang orang muda
-    Disebabkan penghacuran total sel-sel beta pankreas
-    Sangat mutlak tergantung pada terapi insulin
b.    Tipe II : NIDDM (Non insulin dependent diabetes melitus)
Cirinya:
-    Paling banyak menyerang orang tua
-    Sel beta pankreas tidak dirusak tidak cukup memproduksi insulin
-    Sehingga hati, otot serta sel lemak tidak beraksi secara wajar
Gejala DM adalah: polipagia, poliuria, polidipsia diikuti tubuh yang cepat lelah, kurang tenaga,badan kurus, gatal-gatal, kesemutan dan luka yang sukar sembuh.

2.    Osteoporosis
Pada wanita, kekurangan hormon estrogen dapat menyebabkan khilangan masa tulang dampak terhadap metabolisme kalsium akhirnya membuat tulang patah.
Pada pria, karena defisiensi testosteron, alkohol, penggunaan kortikosteroid, dan faktor penuaan.

3.    Dementia type Alzheimer
Dipengaruhi oleh hormon juga, pada wanita estrogen dapat meningkatkan produksi zat dan aktifitas neorotransmeter, penurunan testoteron pada laki-laki akan berpengaruh penurunan fungsi memori dan fungsi kognitif. Kondisi yang sangat berat akan menyebabkan terjadinya penimbunan protein amiloid di darah otak sehingga terjadi sindroma alzeimer.
Gejala-gejala Demensia Alzheimer sendiri meliputi gejala yang ringan sampai berat. Sepuluh tanda-tanda adanya Demensia Alzheimer adalah :
•    Gangguan memori yang memengaruhi keterampilan pekerjaan, seperti; lupa meletakkan kunci mobil, mengambil baki uang, lupa nomor telepon atau kardus obat yang biasa dimakan, lupa mencampurkan gula dalam minuman, garam dalam masakan atau cara-cara mengaduk air.
•    Kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan, seperti; tidak mampu melakukan perkara asas seperti menguruskan diri sendiri.
•    Kesulitan bicara dan berbahasa
•    Disorientasi waktu, tempat dan orang, seperti; keliru dengan keadaan sekitar rumah, tidak tahu membeli barang ke kedai, tidak mengenali rekan-rekan atau anggota keluarga terdekat.
•    Kesulitan mengambil keputusan yang tepat
•    Kesulitan berpikir abstrak, seperti; orang yang sakit juga mendengar suara atau bisikan halus dan melihat bayangan menakutkan.
•    Salah meletakkan barang
•    Perubahan mood dan perilaku, seperti; menjadi agresif, cepat marah dan kehilangan minat untuk berinteraksi atau hobi yang pernah diminatinya.
•    Perubahan kepribadian, seperti; seperti menjerit, terpekik dan mengikut perawat ke mana saja walaupun ke WC.
•    Hilangnya minat dan inisiatif

4.    Penyakit Jantung
Penyakit jantung yang dijumpai pada orang-orang lanjut usia ada beberapa macam, yaitu :

a.    Penyakit Jantung Koroner.
Akibat yang besar dari penyakit jantung koroner adalah kehilangan oksigen dan makanan ke jantung karena aliran darah ke jantung melalui arteri koroner berkurang. Penyakit jantung koroner lebih banyak menyerang pria daripada wanita, orang kulit putih dan separoh baya sampai dengan lanjut usia. Penyebab dari penyakit jantung koroner ini adalah aterosklerosis, pada aterosklerosis terjadi plak lemak dan jaringan serat sehingga menyempitkan bagian dalam arteri jantung. Penyebab lainnya adalah faktor keturunan, hipertensi, kegemukan, merokok, diabetes, stress, kurang olahraga dan kolesterol tinggi.
Gejala yang muncul pada penyakit jantung koroner ini adalah angina, yaitu ketidakcukupan aliran oksigen ke jantung. Perasaan sakit angina terjadi seperti: terbakar, tertekan, dan tekanan berat di dada kiri yang dapat meluas ke lengan kiri, leher, dagu dan bahu. Tanda yang khas saat penyerangan adalah timbulnya rasa mual, muntah, pusing, keringat dingin dan tungkai serta lengan menjadi dingin.

b.    Serangan Jantung.
Serangan jantung terjadi apabila salah satu arteri jantung tidak sanggup lagi mensuplai darah ke bagian otot jantung yang dialirinya. Apabila terjadi keterlambatan dalam pengobatan akan mengakibatkan kematian. Hampir separoh dari kematian mendadak karena serangan jantung terjadi sebelum pasein tiba di rumah sakit. Penyebab dari serangan jantung ini adalah karena pembentukan arterisklerosis (pengerasan arteri jantung) yang berakibat pada penurunan aliran darah. Faktor resikonya meliputi: faktor keturunan, tekanan darah tinggi, merokok, kolesterol tinggi, diabetes, kegemukan, kurang olahraga, pemakaian obat-obatan (terutama kokain), umur dan stres.
Gejala utama serangan jantung ini adalah rasa sakit seperti menusuk-nusuk dan bersifat persisten pada dada kiri, menyebar ke lengan, rahang, leher, dan bahu sampai 12 jam lamanya atau bahkan lebih. Tanda lain adalah perasaan seperti bingung (bodoh), lelah, mual, muntah, sesak napas, dingin di lengan dan tungkai, keringat dingin, cemas dan gelisah.

c.    Penyakit jantung hipertensi.
Kebanyakan dengan bertambahnya usia seseorang, maka tensi atau tekanan darahnya akan mengalami kenaikan. Berbagai penelitian telah dilakukan dan disimpulkan bahwa di Indonesia rata-rata hipertensi (kanaikan tekanan darah) berkisar 5 - 10% dan menjadi lebih dari 20% jika sudah memasuki usia 50 tahun keatas. Hipertensi sistolik pada mulanya dianggap suatu gangguan kecil, akan tetapi sekarang ini telah diakui sebagai pemegang peranan yang besar sebagai faktor resiko serangan jantung. Pada usia lanjut tekanan darah cenderung mengalami labilitas dan mudah mengalami hipotensi (tekanan darah rendah). Untuk itu dianjurkan selalu mengukur tekanan darah pada waktu periksa maupun saat kontrol pengobatan. Apabila tidak dilakukan kontrol rutin terhadap tekanan darah, akan memperbesar terjadinya penyakit jantung hipertensi.

C.   MASALAH SOSIAL PADA LANSIA
Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan kdang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna serta merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain sehingga perilakunya seperti anak kecil.
Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya lansia yang memiliki keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran) masih sangat beruntung karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan kerabat umumnya ikut membantu memelihara (care) dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak punya keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang, atau punya pasangan hidup namun tidak punya anak dan pasangannya sudah meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi terlantar.

D. MASALAH PSIKOLOGI PADA LANSIA

a.    Depresi
Gangguan depresi merupakan hal yang terpenting dalam problem lansia. Usia bukan merupakan faktor untuk menjadi depresi tetapi suatu keadaan penyakit medis kronis dan masalah-masalah yang dihadapi lansia yang membuat mereka depresi. Gejala depresi pada lansia dengan orang dewasa muda berbeda dimana pada lansia terdapat keluhan somatik.
Gejala depresi pada lansia, yaitu :
1.    Gejala utama :
•    Afek depresi
•    Kehilangan minat
•    Berkurangnya energi (mudah lelah)
2.    Gejala lain:
•    Konsentrasi dan perhatian berkurang
•    Kurang percaya diri
•    Sering merasa bersalah
•    Pesimis
•    Ide bunuh diri
•    Gangguan pada tidur
•    Gangguan nafsu makan
Berdasarkan gejala di atas, depresi pada lansia dapat dibedakan beberapa bentuk berdasarkan berat ringannya :
•    Depresi ringan : 2 gejala utama + 2 gejala lain+ aktivitas tidak terganggu.
•    Depresi sedang : 2 gejala utama + 3 gejala lain+ aktivitas agak terganggu.
•    Depresi berat : 3 gejala utama + 4 gejala lain+ aktivitas sangat terganggu.
Penyebab terjadinya depresi merupakan gabungan antara faktor-faktor psikologik, sosial dan biologik.
•    Biologik  : sel saraf yang rusak, faktor genetik, penyakit kronis seperti hipertensi, DM, stroke, 
      keterbatasan gerak, gangguan pendengaran / penglihatan.
•    Sosial      : kurang interaksi sosial, kemiskinan, kesedihan, kesepian, isolasi sosial.
•    Psikologis : kurang percaya diri, gaul, akrab, konflik yang tidak terselesai.

b.    Skizofrenia
Skizofrenia biasanya dimulai pada masa remaja akhir / dewasa muda dan menetap seumur hidup. Wanita lebih sering menderita skizofrenia lambat dibanding pria. Perbedaan onset lambat dengan awal adalah adanya skizofrenia paranoid pada tipe onset lambat.
Paling sedikit 2 gejala berikut :
•    Halusinasi panca indera yang menetap
•    Arus pikir yang terputus
•    Perilaku katatonik
•    Gejala negatif
Katatonik
a.    Stupor katatonik yaitu aktivitas motorik yang melambat secara nyata, seringkali hingga mencapai suatu titik imobilitas dan tampak tak sadar akan sekitar.
b.    Atau mungkin mucul sebagai aktivitas motorik yang berlebihan (eksitasi katatonik), sebuah keadaan ekstrim yang mungkin berbahaya bagi pasien dan orang lain. Eksitasi katatonik adalah aktivitas motorik yang tak bertujuan dan teragitasi, tidak dipengaruhi oleh stimulus eksternal.
c.    Sebuah gejala penting dari katatonia adalah katalepsia, di mana postur tidak nyaman dan aneh dipertahankan melawan gravitasi atau gaya lainnya. Katalepsi merupakan istilah umum untuk posisi tidak bergerak yang dipertahankan secara konstan. Katatonia dan abnormalitas postur ditemukan pada skizofrenia katatonik
Adanya gejala-gejala khas tersebut di atas berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih. Terapi dapat diberikan obat anti psikotik seperti haloperidol, chlorpromazine, dengan pemberian dosis yang lebih kecil.

c.    Gangguan Delusi
Onset usia pada gangguan delusi adalah 40 – 55 tahun, tetapi dapat terjadi kapan saja.
Pencetus terjadinya gangguan delusi adalah :
•    Kematian pasangan
•    Isolasi sosial
•    Finansial yang tidak baik
•    Penyakit medis
•    Kecacatan
•    Gangguan pengelihatan / pendengaran
Pada gangguan delusi terdapat jenis lain yang onset lambat yang dikenal sebagai parafrenia yang timbul selama beberapa tahun dan tidak disertai demensia. Terapi yang dapat diberikan yaitu : psikoterapi yang dikombinasi dengan farmakoterapi.

d.    Gangguan Kecemasan
Gangguan kecemasan adalah berupa gangguan panik, fobia, gangguan obsesif konfulsif, gangguan kecemasan umum, gangguan stres akut, gangguan stres pasca traumatik. Tanda dan gejala fobia pada lansia kurang serius daripada dewasa muda, tetapi efeknya sama, jika tidak lebih, menimbulkan debilitasi pada pasien lanjut usia. Teori eksistensial menjelaskan kecemasan tidak terdapat stimulus yang dapat diidentifikasi secara spesifik bagi perasaan yang cemas secara kronis.
Kecemasan yang tersering pada lansia adalah tentang kematiannya. Orang mungkin menghadapi pikiran kematian dengan rasa putus asa dan kecemasan, bukan dengan ketenangan hati dan rasa integritas (“Erik Erikson”).
Gangguan stres lebih sering pada lansia terutama jenis stres pasca traumatik karena pada lansia akan mudah terbentuk suatu cacat fisik. Terapi dapat disesuaikan secara individu tergantung beratnya dan dapat diberikan obat anti anxietas seperti : hydroxyzine, Buspirone.

e.    Gangguan penggunaan Alkohol dan Zat lain
Riwayat minum / ketergantungan alkohol biasanya memberikan riwayat minum berlebihan yang dimulai pada masa remaja / dewasa. Mereka biasanya memiliki penyakit hati. Sejumlah besar lansia dengan riwayat penggunaan alkohol terdapat penyakit demensia yang kronis.
Presentasi klinis pada lansia termasuk terjatuh, konfusi, higienis pribadi yang buruk, malnutrisi dan efek pemaparan. Zat yang dijual bebas seperti kafein dan nikotin sering disalah gunakan. Di sini harus diperhatikan adanya gangguan gastrointestiral kronis pada lansia pengguna alkohol maupun tidak obat-obat sehingga tidak terjadi suatu penyakit medik.

f.    Gangguan Tidur
Usia lanjut adalah faktor tunggal yang paling sering berhubungan dengan peningkatan prevalensi gangguan tidur. Fenomena yang sering dikeluhkan lansia dari pada usia dewasa muda adalah :
•    Gangguan tidur
•    Ngantuk siang hari
•    Tidur sejenak di siang hari
•    Pemakaian obat hipnotik.
Secara klinis, lansia memiliki gangguan pernafasan yang berhubungan dengan tidur dan gangguan pergerakan akibat medikasi yang lebih tinggi dibanding dewasa muda. Disamping perubahan sistem regulasi dan fisiologis, penyebab gangguan tidur primer pada lansia adalah insomnia. Selain itu gangguan mental lain, kondisi medis umum, faktor sosial dan lingkungan. Ganguan tersering pada lansia pria adalah gangguan rapid eye movement (REM). Hal yang menyebabkan gangguan tidur juga termasuk adanya gejala nyeri, nokturia, sesak napas, nyeri perut.
Keluhan utama pada lansia sebenarnya adalah lebih banyak terbangun pada dini hari dibandingkan dengan gangguan dalam tidur. Perburukan yang terjadi adalah perubahan waktu dan konsolidasi yang menyebabkan gangguan pada kualitas tidur pada lansia.
Terapi dapat diberikan obat hipnotik sedatif dengan dosis yang sesuai dengan kondisi masing-masing lansia dengan tidak lupa untuk memantau adanya gejala fungsi kognitif, perilaku, psikomotor, gangguan daya ingat, insomnia rebound dan gaya jalan.

1 komentar: